Rabu, 21 September 2011

INTEGRASI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM PEMBELAJARAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

(dari berbagai sumber)

Pendahuluan

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (Pasal 1, Ayat (1) UU RI No 20 Tahun 2003). Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (Pasal 3, UU RI No 20 Tahun 2003).


UU RI No 20 Tahun 2003 pada pasal satu dan tiga secara inplisit telah memuat pendidikan karakter sebagai upaya membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat. Tahun 2011 Kementerian Pendidikan Nasional akan mengembangkan kurikulum berbasis akhlak mulia yang bertujuan untuk menanamkan karakter yang baik kepada peserta didik melalui pendidikan (Anonim,2010). Hal tersebut diungkapkan Menteri Pendidikan Nasional Prof. Dr. Ir. KH. Muhammad Nuh, DEA. Menurut M Nuh, Kemajuan dan kemandirian sebuah bangsa antara lain dibangun melalui karakter yang kuat sehingga pengembangan Kurikulum berbasis akhlak mulia diharapkan dapat menanamkan karakter bagi anak-anak Indonesia sejak dini. Kebijakan kementerian pendidikan nasional mengenai pendidikan karakter harus didukung untuk membangun karakter bangsa. Karakter suatu bangsa dapat dibangun dari pembentukan karakter generasi muda sejak dini. Pembentukan karakter bangsa harus berlangsung secara berkesinambungan dari suatu generasi ke generasi berikutnya.

Pendidikan karakter pada tingkat satuan pendidikan dapat dilakukan dengan mengembangkan nilai-nilai melalui belajar pembiasaan, pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler, bimbingan konseling dan pendekatan terintegrasi dengan menanamkan moralitas dan akhlak mulia dalam semua mata pelajaran yang diajarkan di kelas. Bagi tenaga pendidik, pendidikan karakter yang menjadi kebijakan pemerintah merupakan tugas utama pada pengembangan aspek sikap (afektif) selain aspek pengetahuan (kognitif) dan keterampilan (psikomotor). Pengetahuan dan keterampilan adalah kemampuan yang penting dimiliki oleh peserta didik, akan tetapi penanaman sikap untuk membentuk mental peserta didik tidak kalah pentingnya, agar sikap peserta didik ketika memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk masa depannya lebih terarah.

Ilmu Pengetahuan Alam merupakan salah satu mata pelajaran yang dapat berperan dalam pendidikan karakter dengan menanamkan nilai-nilai moral dan akhlak mulia pada proses pembelajarannya. Menurut Naisbitt & Aburdene (1990, dalam Rustaman, 2010) tentang abad XXI sebagai abad Ilmu Pengetahuan Alam. Abad ini jelas merupakan tantangan bagi para ilmuwan dan pendidik Ilmu Pengetahuan Alam. Mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam mempelajari makhluk hidup dan hubungannya dengan lingkungan, sehingga dapat dimuati dengan nilai-nilai luhur, baik nilai religius maupun nilai akhlak mulia. Sehingga tenaga pendidik yang mengajar Ilmu Pengetahuan Alam harus mulai berperan serta dalam pembentukkan karakter bangsa bukan hanya sekedar membebani peserta didik dengan pengetahuan dan hapalan.

Pendidikan karakter

Menurut Pusat Bahasa Depdiknas karakter adalah “bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, temperamen, watak”. sedangkan berkarakter adalah berkepribadian, berperilaku, bersifat, bertabiat, dan berwatak” (Ardi, 2010). Sedangkan menurut Musfiroh (2008, dalam Ardi, 2010), karakter mengacu kepada serangkaian sikap (attitudes), perilaku (behaviors), motivasi (motivations), dan keterampilan (skills). Menurut Ardi (2010) individu yang berkarakter mulia berarti individu yang memiliki pengetahuan tentang potensi dirinya, yang ditandai dengan nilai-nilai seperti reflektif, percaya diri, rasional, logis, kritis, analitis, kreatif dan inovatif, mandiri, hidup sehat, bertanggung jawab, cinta ilmu, sabar, berhati-hati, rela berkorban, pemberani, dapat dipercaya, jujur, menepati janji, adil, rendah hati, malu berbuat salah, pemaaf, berhati lembut, setia, bekerja keras, tekun, ulet/gigih, teliti, berinisiatif, berpikir positif, disiplin, antisipatif, inisiatif, visioner, bersahaja, bersemangat, dinamis, hemat/efisien, menghargai waktu, pengabdian/dedikatif, pengendalian diri, produktif, ramah, cinta keindahan (estetis), sportif, tabah, terbuka, tertib. Sementara menurut Thomas Lickona (1999, dalam Budimansyah, 2011) harmoninya antara moral knowing, moral feeling, dan moral action dalam pengertian bahwa seseorang yang berkarakter itu mempunyai pikiran yang baik (thinking good), memiliki perasaan yang baik (feeling good), dan juga berperilaku baik (acting good).

Makna pendidikan karakter adalah sebagai pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan watak, yang tujuannya mengembangkan kemampuan peserta didik untuk menilai baik-buruk, memelihara apa yang baik itu, dan mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari (Diknas, 2010). Karakter yang baik sesuai dengan tujuan pendidikan nasional, harus dimiliki peserta didik agar mampu menghadapi tantangan hidup pada saat sekarang dan di masa yang akan datang.
Sembilan pondasi dalam pembentukan karakter menurut Pakpahan (2010) adalah sebagai berikut :
1. Menanamkan rasa cinta kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Ciptaannya
2. Tanggung jawab, disiplin dan mandiri
3. Kejujuran
4. Hormat dan santun
5. Kasih sayang, peduli, dan kerjasama
6.
Percaya diri, kreatif, kerja keras, dan pantang menyerah
7. Keadilan dan kepemimpinan
8. Baik dan rendah hati
9. Toleransi, cinta damai, dan persatuan.

Sembilan pondasi dalam pembentukan karakter bangsa dapat ditumbuhkembangkan melalui pendidikan pada semua jenjang dan perlu ditanamkan sejak dini mulai dari lingkungan keluarga dan masyarakat secara berkelanjutan.
Dunia pendidikan diharapkan dapat berperan dalam proses pembangunan karakter bangsa. Tenaga pendidik hendaknya mengintegrasikan nilai-nilai karakter dalam pembelajaran di kelas.

Menurut Diknas (2010) jenis-jenis nilai karakter yang dapat ditanamkan kepada peserta didik di kelas adalah sebagai berikut :
1.
Nilai Karakter dalam Hubungannya dengan Tuhan

  • Religius
  • Taqwa

2. Nilai Karakter dalam Hubungannya dengan diri sendiri

  • Jujur
  • Bertanggung jawab
  • Hidup sehat
  • Disiplin
  • Kerja keras
  • Percaya diri
  • Berjiwa wira usaha
  • Berpikir logis, kritis, kreatif,inovatif
  • Mandiri
  • Ingin tahu
  • Cinta ilmu

3. Nilai Karakter dalam Hubungannya dengan sesama

  • Sadar akan hak dan kewajiban diri dan orang lain
  • Patuh pada aturan-aturan sosial
  • Menghargai karya dan prestasi orang lain
  • Santun
  • Demokratis

4. Nilai Karakter dalam Hubungannya dengan kebangsaan

  • Nasionalis
  • Menghargai Keberagaman

5. Nilai Karakter dalam Hubungannya dengan lingkungan

  • Peduli Sosial dan Lingkungan

Integrasi Pendidikan Karakter dalam Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam

Dalam proses pembelajaran di kelas pengembangan nilai/karakter dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan terintegrasi dalam semua mata pelajaran (embeded approach) (Diknas, 2010). Setiap kegiatan pembelajaran dikembangkan kemampuan ranah kognitif, afektif, dan psikomotor, sehingga tidak selalu diperlukan kegiatan belajar khusus untuk mengembangkan nilai-nilai pendidikan karakter bangsa. Tenaga pendidik dapat menjadi teladan bagi peserta didik, untuk pengembangan nilai-nilai tertentu seperti jujur, disiplin, kerja keras, toleransi, mandiri, semangat kebangsaan, dan gemar membaca. Sedangkan untuk mengembangkan beberapa nilai lain seperti peduli lingkungan, rasa ingin tahu, peduli sosial dan kreatif memerlukan situasi dan kondisi agar peserta didik memiliki kesempatan untuk memunculkan perilaku yang menunjukkan nilai tersebut.
Integrasi pendidikan karakter dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam yang dapat dikembangkan antara lain:

a. Menanamkan rasa cinta kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Ciptaannya

Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dapat dijadikan sebagai pendekatan untuk membangun moral, karakter, dan akhlak mulia. Menurut Suprayogo (2010, dalam Pakpahan, 2010) melalui pendidikan sains, peserta didik akan mengenal dirinya sendiri dan Tuhannya. Dengan memperhatikan, memikirkan, dan merenungkan tentang ciptaan Tuhan di alam semesta ini maka akan terbangun rasa cinta kepada Tuhan Yang Maha Esa dan ciptaannya serta kasih sayang dan peduli terhadap sesama makhluk hidup dan lingkungannya. Pembentukan karakter ini dapat diintegrasikan pada materi Ilmu Pengetahuan Alam,antara lain keanekaragaman makhluk hidup, proses kejadian manusia, dan ekosistem. Proses pembelajaran yang dilakukan tidak hanya di dalam kelas tetapi dapat juga dilakukan di luar kelas (lingkungan alam). Dengan melibatkan alam, maka pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam akan menjadi lebih menyenangkan dan menggairahkan. Adanya Interaksi peserta didik dengan lingkungan atau alam akan menghasil perubahan perilaku ke arah yang lebih baik.

b. Ingin tahu, cinta ilmu dan hidup sehat

Nilai karakter ingin tahu, cinta ilmu dan hidup sehat dapat dikembangkan pada peserta didik melalui materi sistem pada tubuh manusia yang meliputi morfologi, anatomi, fisiologi dan kelainan/penyakit yang berhubungan dengan sistem-sistem dalam tubuh manusia. Selain itu dapat pula ditanamkan nilai karakter tersebut melalui materi virus dan bakteri serta zat psikotropika dan pengaruhnya bagi kesehatan.

c. Peduli sosial dan lingkungan

Pada materi pencemaran lingkungan, saling ketergantungan dan contoh-contoh bencana alam, dapat dikembangkan nilai menyadari peran manusia dalam lingkungannya, menanamkan sikap cinta lingkungan dengan cara bersikap bijak terhadap sampah yang dihasilkan manusia dan bagaimana cara penanggulangannya. Selain itu pada kasus-kasus bencana alam, ditanamkan sikap peduli sosial kepada peserta didik melalui berdoa bersama untuk para korban bencana, penggalangan dana dan mengumpulkan pakaian layak pakai.

d. Berpikir logis, kritis, kreatif,inovatif

Karakter ini dapat dikembangkan melalui pembuatan majalah dinding (Mading) yang bertema keselamatan kerja di laboratorium atau pelestarian lingkungan. Mading ini dapat memuat puisi, cerpen, puzzle, karikatur dan lain sebagainya. Selain itu sikap kreatif dan inovatif dapat pula ditanamkan melalui penugasan pembuatan insektarium, herbarium ataupun taksidermi.

e. Pengembangan sikap ilmiah

Menurut Rustaman (2010) pembentukan karakter melalui pengembangan sikap ilmiah (scientific attitude) antara lain meliputi: curiosity (sikap ingin tahu), respect for evidence (sikap untuk senantiasa mendahulukan bukti), flexibility (sikap luwes terhadap gagasan baru), critical reflection (sikap merenung secara kritis), sensitivity to living things and environment (sikap peka/ peduli terhadap makhluk hidup dan lingkungan). Pengembangan sikap ilmiah ini dapat dilakukan dengan penugasan proyek mengamati gejala alam.

f. Disiplin, bertanggung jawab, jujur

Dalam proses penanaman sikap disiplin, bertanggung jawab dan jujur dapat dilkukan oleh tenaga pendidik sebagai contoh teladan bagi peserta didiknya. Misalnya masuk dan keluar kelas tepat waktu, mengoreksi tugas-tugas dan hasil ulangan peserta didik tepat waktu, dan berkata jujur. Sedangkan kepada peserta didik dilatih agar setiap tugas tidak mencontek dan mengumpulkan tugas tepat waktu,

g. Santun, menghargai orang lain dan menghargai keberagaman

Peserta didik dapat mengembangkan sikap ini melalui diskusi-diskusi kelas, peserta didik dibiasakan agar santun dalam mengeluarkan pendapat dan menghargai pendapat orang lain. Selain itu dalam kegiatan praktikum, dikembangkan juga sikap toleransi terhadap orang lain dan menghargai keberagaman dalam kelompok.

Simpulan dan Saran


Di akhir tulisan ini dapat disimpulkan bahwa pembangunan karakter bangsa sangat penting, tidak hanya harus dilakukan pada lingkungan keluarga saja, tetapi juga harus dikembangkan pada tingkat satuan pendidikan, lingkungan masyarakat bahkan di tempat kerja. Pembangunan karakter bangsa dapat dilakukan melalui proses pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dengan cara mengintegrasikan nilai-nilai karakter yang baik dalam proses pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam. Tenaga pendidik harus memberikan contoh teladan yang baik bagi peserta didiknya serta sebaiknya ada kerjasama antara pihak satuan pendidikan dengan orang tua dalam menanamkan karakter yang baik pada diri peserta didik.

Daftar Pustaka


Anonim.2010. Kemendiknas akan Kembangkan Kurikulum Berbasis Akhlak Mulia. http://www.pendidikankarakter.org/index.php?news&nid=20.

Ardi, S. 2010. Konsep Pendidikan Karakter. http://suciptoardi.wordpress.com/ 2010/10/27/konsep-pendidikan-karakter/.

Budimansyah, D. 2011. Pendidikan Umum dalam Perspektif Pendidikan Karakter Bangsa. http://berita.upi.edu/2011/02/18/pendidikan-umum-dalam-perspek tif-pendidikan-karakter-bangsa.

Diknas. 2010. Konsep Pendidikan Karakter dalam Pembelajaran Di Kelas. http:// mgpmgl.blogdetik.com/2010/12/02/konsep-pendidikan-karakter/comment-page-1/.

Pakpahan, S.P. 2010. Upaya Mencari Bentuk Pendidikan dalam Membangun Karakter Bangsa. Disampaikan pada Temu Ilmiah Guru Nasional II 24-25 November 2010.

Rustaman, N.Y.2010. Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam dan Trend Penelitiannya.FMIPA UPI.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar